MENELADANI BU NYAI SUDARMI IBUNDA TRIMURTI GONTOR

Oleh Fahrizal Ischaq Addimasqie
www.amanatussalam.ponpes.id

Jika kita melihat lebih dalam Ponorogo, maka sangat lekat dengan Kanuragan (baca; ilmu Kekuatan) dan pengaruh Hindhu-Budha yang kental, banyak pengaruh tokoh luar Jawa di dalam mantiqoh ini, sangking kuatnya penguasa saat itu, hingga disebut “Tegalsari Mancanegara”, salah satu yang dikirim ke Ponorogo oleh Sunan Ampel pada waktu itu adalah Raden Bathara Katong, dalam versi lain yang mengutusnya adalah Kesultanan Demak, yang kemudian Bathara Katong ini menjadi pemenang dan menduduki posisi Adipati pertama wilayah Ponorogo saat itu, tugasnya satu mengalahkan Ki Ageng Kutu yang pada waktu itu terkenal dengan kesaktiannya dan penguasa wilayah beragama Hindu yang sangat ditakuti.

Saya tinggal di Ponorogo sekitar lima tahun, sama dengan tempo saya tinggal di Damaskus tempat saya belajar kelembutan dalam berdakwah, sepemahaman saya orang Ponorogo itu athos(keras) dalam arti hikmah berprinsip, maka tidak heran bagi alumni Gontor yang melihat ada rumah kecil dan “nyempil” yang tetap berdiri di depan gapuro UNIDA Gontor, tanpa rasa sungkan dan risih, wong Yo Jan Athos (memang juga keras), tapi kalau sudah Soleh, kesalehannya bisa mempengaruhi sejagat Nusantara, dan kali ini saya ingin bercerita tentang Ibu Nyai Sudarmi Ibunda Trimurti yang mulia pendiri Gontor yang tersohor. Bismillah.

Jum’at kemarin saya berkunjung ke Gontor, ditemani kerabat Trimurti yang tinggal di Ponorogo, kami diajak ke tempat peristirahatan Mbah Mahdi, Kakek dari Bu Nyai Sudarmi, beliau bilang ke saya “Kalau tidak karena kegigihan, kesolehan dan kekuatan spiritual ayah dan kakek Bu Nyai Sudarmi dalam mendukung dan Mendo’akan putrinya, bisa jadi Bu Nyai Sudarmi sudah putus asa dalam membesarkan Trimurti dan ke empat saudaranya (7 bersaudara) pada waktu itu, karena Kiai Anom Santoso Besari meninggal sangat muda pada waktu itu, sehingga Bu Nyai Sudarmi membesarkan Trimurti seorang diri tanpa didampingi Suami. Teguh, gigih dan Istiqomah itulah sifat Bu Nyai, langkahnya pasti dan tegas, darah kakek buyutnya begitu kental, salah satu amaliyah Bu Nyai Sudarmi adalah beliau sangat memuliakan tamu, hampir setiap tamu disuguhinya dengan sempurna, bahkan untuk memotong 1 atau 2 ekor ayam sudah biasa sambil meminta Do’a kepada para tamu agar anaknya yang sedang “mondok” mulia seperti para tamu yang datang dengan segala kemuliaannya.

Sepulang dari Gontor kami bertemu calon santri pesantren kami Amlam dari Fak-Fak Papua, ujung Indonesia, kami dicegat di rest area 626 dengan Dr. Angky yang sebagai wasilah pada waktu itu, ibunya menangis, karena anaknya tidak betah di Gontor, kami akhirnya diskusi dan larut dalam suasana haru dan bangkitnya semangat yang hampir pudar, setelah mendengar dan belajar bersama keteladanan Bu Nyai Sudarmi, Ibu santriwati itu datang seorang diri dari Papua, beliau tidak bisa langsung terbang ke Surabaya karena harus transit di Makasar, saya yakin haqqul yaqin, jika beliau sabar dan tegar bak Bu Nyai Sudarmi, pasti anaknya akan juga mulia seperti Trimurti Gontor.

Pelajaran yang dipetik adalah tamu itu Rizki, doa’anya mustajab, Do’a para tamu yang berbahagia atas penyambutan kita bisa menembus langit dan alam semesta ini, maka tidak heran ada cita-cita seorang ulama nasional yang pernah kami jumpai, untuk bisa memberikan makan setiap tapi yang datang di rumahnya, dan begitulah kami berusaha mengamalkannya di Pesantren yang kami rintis di Kaki Gunung Anjasmoro di Kabupaten Jombang saat ini, tamu itu Mbarokahi, tamu itu adalah rizki dan tamu itu adalah jendela tuhan untuk menurunkan rahmat-Nya. Yang kedua, tidak ada keberuntungan yang kebetulan, Do’a orang tua dan kakek nenek kita adalah salah satu sebab yang manjur akan kemudahan kita di hari ini, seringkali kami menyampaikan kepada santri dan Muhibbin kami, masa depan anak itu ada pada krenteke atine wong tuwo (suara hati orangtua), maka sesusah dan sesulit apapun kita sebagai orang tua, harapan kita tidak boleh padam untuk masa depan anak-anak dan santri kita ke depan, karena di situlah Kuncinya.

Jika kita bisa sukses karena do’a sesepuh kita, maka tidak lazim jika kita tidak membalas do’a mereka, mari kita ajak anak-anak dan santri-santri untuk mendoakan Sesepuh kita dan juga Sesepuh para santri, agar pondok kita berkah, kebaikan yang kita lakukan abadi, hingga kita berjumpa dalam satu kemuliaan di akhirat nanti. Amin.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.